BERITA TERKINI :
Home » » Strategi Baru Amerika Perangi ISIS (2)

Strategi Baru Amerika Perangi ISIS (2)




Konteks Strategi Amerika dan Targetnya
Melihat konteks kebijakan Amerika dalam perangnya atas ISIS, empat prinsip di atas hanyalah garis besar bagi rencana yang lebih besar dan menyeluruh yang bertujuan memetakan kembali pos-pos kekuatan dan pengaruhnya di kawasan. Dengan rencana itu Amerika berharap bisa membendung atau bahkan memberangus dinamika kebangkitan di masyarakat Arab yang sudah mulai muncul bersamaan dengan munculnya revolusi Arab. Ini tidak berarti bahwa Amerika dan sekutunya tidak merasa terancam dengan bahaya hakiki ISIS yang mengadopsi idelogi anti perbatasan. ISIS ini baik melalui ideloginya yang ekstrim, politik transnasional, anti territorial, dan perlengkapannya yang terus berkembang yang sebenarnya dibentuk dari senjata-senjata Amerika yang mereka ambil dari militer Irak disamping menjadi ancaman bagi Amerika dan sekutunya namun juga menjadi peluang bagi mereka untuk mewujudkan target dan tujuannya untuk menancapkan pengaruhnya di kawasan.

Tujuan jangka pendek operasi militer AS dan sekutunya atas ISIS adalah dengan mengurung dan melumpuhkan kemampuan logistiknya dengan mentarget gudang-gudang senjata mereka dari udara, mengakhiri penguasaan mereka atas kota-kota dan wilayah utama di Irak melalui jalan pertempuran di lapangan baik dengan militer Irak, milisi Syiah dan pasukan Bashmakar Kurdi di sisi lain.
Di sisi lain, dimensi penegakan undang-undang terorisme yang menjadi payung bagi Amerika dan barat untuk memukul kelompok yang didaftar sebagai organisasi teroris. Bisa jadi kelompok politik oposisi dengan latar belakang Islam.
Tanpa disadari strategi operasi militer atas ISIS dilakukan AS dan barat sesaat setelah kemenangan kelompok perlawanan Palestina di Gaza melawan agresi Israel dan kemajuan yang dicapai oleh revolusi Libia melawan kelompok pasukan Hefter. Ini mengindikasikan bahwa kebangkitan Arab mendapatkan serangan balik. Setelah kembali mengambil nafas dan melakukan konfrontasi kembali, mereka mendapatkan perlawanan lagi dari pihak yang ditengarai membawa kepentingan barat di kawasan.
Kasus di Yaman juga tidak jauh beda indikasinya. Meski kelompok Houtis menguasai ibukota Yaman Sanaa, Amerika dan sekutunya dari kelompok murtad Arab tidak mengecam menunjukkan sikap kecaman sama sekali kepada kelompok berhaluan Syiah ini atau meminta agar Houtis keluar dari wilayah yang dikuasainya dan menyerahkan senjata. Sebab Houtis akan berpihak kepada kepentingan proyek Amerika yang hendak menghabisi revolusi Yaman yang dianggap sebagai ancaman bagi rezim-rezim Arab di kawasan.
Sikap Pihak Yang Terlibat
-          Sikap Amerika
Sesaat setelah Barack Obama mengumumkan strategi memerangi ISIS, muncul tiga permasalahan polemic yang merupakan indicator paling mencolok dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan strategi AS ini. Pertama, terkait serangan udara yang menjadi konsen pasukan Amerika. Sementara Jenderal Dempsey bersaksi di depan Kongres bahwa pengiriman pasukan ke lapangan adalah kemungkinan yang dilakukan sesuai dengan perkembangan di lapangan. Yang kemudian ditepis oleh presiden Amerika dalam sambutannya di distrik Florida bahwa tidak ada tugas perang di lapangan bagi pasukan Amerika. Inilah yang menyebabkan kritikan pedas di jajaran elit militer dimana keputusan Obama dengan tidak melibatkan pasukan dalam perang darat dianggap sebagai memborgol pasukan AS dan tidak akan bisa membantu mengendalikan perang melawan ISIS.
Masalah kedua terkait tugas pembuatan pasukan “Pembela Nasional” dari marga-marga Sunni di Anbar yang bekerjasama dengan pemerintah Irak untuk menghadapi ISIS. Tugas ini dinilai sangat sulit dicapai karena tidak adanya kepercayaan di kalangan Sunni terhadap pemerintah pusat di Bagdad di satu sisi dan kekhawatiran jika milisi Syiah akan memanfaatkan kekosongan jika ISIS kalah di sisi lain sehingga penggantinya saat ini akan lebih buruk di banding kondisi saat ini. Selain itu, pemerintah Irak menolak sampai saat ini pembauran pasukan-pasukan tersebut jika dibentuk dengan pasukan keamanan Irak resmi. Ini semakin membuat ketidakpercayaan masyarakat Sunni terhadap pemerintah Haidar Ebadi. Selain itu juga, ISIS memiliki peran cerdas dalam menciptakan ketegangan di kalangan marga dan suku di Irak. Komandan Abu Bakr Al-Bagdadi memiliki hubungan special dengan suku-suku Sunni di Anbar. (berlanjut)
Bagi Artikel ini :

0 Komentar:

Sampaikan komentar anda

Untuk perbaikan kami... !

 
Supported by : KNRP Kota Bima | Divisi Media dan Humas
Hak Cipta © 2013-2014 KNRP│Kota Bima Online - All Rights Reserved
Web prepared by abujadidbima Published by Divisi Media dan Humas
Proudly developed by abujadidbima