BERITA TERKINI :
Home » » Strategi Baru Amerika Perangi ISIS (3)

Strategi Baru Amerika Perangi ISIS (3)





Masalah ketiga, terkait serangan terhadap ISIS di Suriah dan mekanisme menyikapi rezim Basyar Asad. Menteri Luar Negeri Amerika ketika ditanya sikap pemerintahannya terhadap rezim Asad dalam kaitannya perang atas ISIS, ia menggunakan kata-kata Deconflicting yang dianggap oleh para pengamat sebagai jenis koordinator negatif dimana kedua pihak Amerika dan Suriah menjauh dari satu atmosfer yang sama agar jika terjadi serangan hal itu tidak ditafsirkan sebagai tindakan permusuhan.

Menyikapi rezim Asad serba salah. Koordinasi negatif bisa menjadi konfrontasi. Sementara jika tidka ada koordinasi secara utuh akan menjadikan tugas pasukan Amerika menyerang ISIS di Suriah menjadi sangat sulit sekali. Disamping anggota koalisi internasional berbeda dari sisi prinsip soal perluasan serangan ke Suriah. Terutama Perancis yang menyatakan tidak akan mentarger pangkalan militer ISIS.
- Sikap Turki
Sejak awal Turki ikut dalam membentuk koalisi dalam pertemuan-pertemuan yang membahas perang atas ISIS; di antara pertemuan NATO di konferensi Wills yang mempertemukan Obama dan Erdogan di sela-sela konferensi. Jika KTT Jedah dimana Turki menolak menandatangani piagam yang dihasilkan yang mencerminkan sikap keberatan Turki terhadap strategi sekutu karena sejumlah pertimbangan; pertama, Ankara khawatir senjata yang mengalir ke suku Kurdi di Suriah yang yang memiliki hubungan kuat dengan Partai Buruh Kurdistan yang bisa mengancam perdamaian. Kedua, Turki khawatir mengalami imbas keamanan jika ada konfrontasi terbuka dengan ISIS yang di dalamnya ada 400-1000 warga Turki. Ketiga, di kalangan partai penguasa ada keyakinan bahwa perang atas ISIS adalah usaha mengatasi gejala ekstrimisme dan bukan penyebab utamanya yang terwujud dalam politik represif oleh Basyar Asad terhadap rakyatnya.
Jika diperhatikan, pihak lembaga pemerintahan dan media barat sudah melakukan secara sistematis membidik Turki dengan menudingnya mendukung teroris dan memudahkan para pejuang asing ke Irak dan Suriah melalui Turki. Ini usaha barat dalam menekan Ankara agar mengubah sikapnya dan menjadikannya lebih jauh terlibat dalam persekutuan melawan ISIS mengingat peran penting Turki dalam bidang geopolitik untuk keberhasilan strategi Amerika. Selain itu juga dalam rangka menyeret Turki agar mengubah sikapnya terhadap perubahan yang saat ini terjadi di kawasan agar sikapnya lebih dekat kepada barat.
Meski sikap keberatannya, Turki telah memberikan izin kepada pasukan Amerika menggunakan pangkalan udaranya Engerlik untuk melepaskan pesawat pengintai di atas Irak dan mulai melakukan prosedur keamanan untuk mengatasi sampainya para pejuang asing yang ingin bergabung dengan ISIS ke Irak dan Suriah.
Salah satu pertimbangan penting sikap Turki yang keberatan adalah soal tawanan diplomasi Trki yang disandera oleh ISIS yang kemudian dibebaskan dalam operasi intelijen seperti tegas Turki. Tidak adanya pertimbangan ini bisa semakin memperkuat kerjasama Turki dalam koalisi.
-          Negara-negara Sentral (Irak dan Suriah)
Kelompok Sunni di Irak yang menempuh politik konfrontasi (oposisi) di awal tahun 2013, sementara kelompok Kurdi memilih politik menghindar diri, dan perbedaan ada dalam tubuh Syiah semakin memuncak serta polemik soal kekuasaan mantan PM Nuri Maliki menjadi ancaman hakiki bagi kekuasaan Syiah atas titik sentral kekuatan dan kekuasaan di negeri 1001 malam ini. Melejitnya kekuatan ISIS dan peluang yang dimanfaatkan Syiah untuk mengembalikan kekuatannya untuk memakzulkan Maliki dan mengangkat Ibadi sebagai penggantinya hal ini untuk mempersatukan barisan Syiah. Sementara itu kelompok Sunni dikubur utuh di Irak.
Pemerintah Irak berusaha menghabisi musuh-musuhnya dengan kedok memerangi terorisme. Sementara kekutannya semakin lama melemah dibanding milisi-milisi Syiah yang tersebar di ibukota. Inilah yang bisa mendorong mereka akan bisa semakin kuat menguasai Bagdad dan mengendalikan negeri Irak. Sementara pemerintah Irak akan semakin sulit mengendalikan perbedaan terutama menampung komposisi Sunni untuk bisa diberikan hak dan tuntutan mereka untuk menjamin kembalinya stabilitas keamanan di Irak.
Kelompok suku Kurdi akan berusaha menguasai sejumlah kota yang menjadi perselisihan di masa lalu seperti kota Kurkuk. Ini semua memberikan indikasi situasi dalam negeri Irak akan semakin runyam dan perpecahan akan semakin tajam. Sehingga kekerasan antara kelompok akan bisa meletus kembali seperti yang pernah terjadi di 2006 hingga 2008. Ini akan memunculkan keraguan pemerintah Irak berhasil mengalahkan ISIS dan menguasai kembali kota yang mereka kuasa. Apalagi PM Ibadi menolak intervensi asing melalui darat. (berlanjut)
Bagi Artikel ini :

0 Komentar:

Sampaikan komentar anda

Untuk perbaikan kami... !

 
Supported by : KNRP Kota Bima | Divisi Media dan Humas
Hak Cipta © 2013-2014 KNRP│Kota Bima Online - All Rights Reserved
Web prepared by abujadidbima Published by Divisi Media dan Humas
Proudly developed by abujadidbima