BERITA TERKINI :
Home » » 27 Tahun, Kini Hamas di Tengah Gelapnya Arab Spring

27 Tahun, Kini Hamas di Tengah Gelapnya Arab Spring


27 tahun bukanlah waktu sebentar bagi sebuah organisasi pergerakan Islam yang memiliki jalur di luar mainstream di lingkungan sekitarnya. Konfrontasi politik dan militer sudah dicoba oleh Hamas. Mulai dari konfrontasi abadi dengan penjajah Zionis, sikap penolakan terhadap proses perundingan damai dan hasilnya dengan Israel, termasuk konferensi Madrid, Oslo agreement, masuk dalam kancah pemerintahan, rekonsiliasi, blokade, konferenei Sharm El-Shaikh, operasi pembuangan para tokohnya, hubungan dengan dunia Arab dan internasional, hingga pemilu legislatif Palestina.
Namun apa sebenarnya yang paling sulit dan rumit dihadapi Hamas? Ia adalah Arab Spring yang meletus di Tunis akhir 2010 merembet ke Mesir awal 2011, kemudian ke Suriah, Libia, Yaman, Bahrain dan Irak. Cakupanya besar, luas, intervensi berbagai pihak, tahapan paling keras dalam perubahan, bahkan sangat menakutkan bagi sebagian besar orang.
Revolusi rakyat Arab itu telah menjatuhkan sebagian rezim yang ada dan mengancam rezim lainnya serta mempengaruhi polarisasi social, mengancam tiang-tiang penyangga Negara, mendorong terbentuknya koalisi dan kubu serta poros-poros. Rezim-rezim yang rapuh menjadi ketakutan dan merasa terancam.
Lebih penting dari itu, perubahan-perubahan akibat Arab Spring itu mendorong entitas Zionis penjajah, Amerika dan sejumlah Negara Eropa bersama sebagian rezim di kawasan ikut masuk dalam revolusi Arab ini. Namun mereka ingin mengacaukan, menghancurkan, dan menanam investasi untuk menggagalkan tujuannya dan menjaga apa yang tersisa dari rezim yang ada. Mereka menghalangi peralihan pemerintah dari militer dan rezim lama kepada rakyat.
Karena sebagian besar gerakan Arab Spring digerakkan oleh motiv Islam, maka konflik berubah menjadi konflik dengan semua gerakan Islam yang terorganisir atau gerakan yang memiliki proyek islami yang jelas. Kelompok berhaluan Islam menguasai pemerintahan di Mesir, Libia dan Tunis dan bisa jadi akan merembet ke Negara lain. Inilah yang meresahkan dan mengancam kepentingan Amerika, barat dan Zionis serta sebagian penguasa.
Munculnya poros-poros dengan berbagai nama untuk mengadapi proyek di balik Arab Spring itu. Banyak yang memunculkan teori Hamas ikut dalam menggerakkan Arab Spring sebab gerakan ini memiliki popularitas besar terutama di Palestina dan Negara-negara Arab. Sehingga poros Arab Spring tandingan ini perlu membekuk Hamas dan melumpuhkannya.
Namun mereka tidak menemukan bukti obeyektif keterlibatan Hamas dalam hal ini. Semua tudingan yang dialamatkan kepada Hamas hanya reaksi dan usaha memberikan citra buruk kepada pemerintah Hamas.
Sebagian implikasi Arab Spring bersifat negative kepada Hamas terkait hubungannya dengan Suriah, Iran, Hezbolah. Bahkan isu Palestina dan perhatian terhadapnya mengalami kemunduran di kalangan dunia Arab. Pengungsi Palestina di Negara-negara itu ikut menjadi imbas buruk.
Berkali-kali Hamas harus menampik keterlibatannya dengan urusan Arab Spring. Hamas menegaskan tak pernah intervensi dengan Negara manapun, termasuk Mesir atau Suriah sebab pertempuran Hamas hanya dengan Zionis penjajah.
Namun agaknya, akibat krisis dan ketakutan berlebihan, rezim-rezim itu tidak mau mendengar penjelasan logika Hamas. Sikap politik rezim itu akhirnya ingin bertempur untuk bisa bertahan di tahta kekuasaan.
Meski demikian, Arab Spring tak mengubah sikap dan visi Hamas dalam melawan penjajah, bersatu dengan semua elemen Palestina, peran umat dalam menghadapi penjajah, bertahan dan menolak berunding serta membela tempat suci sampai akhir. (at/infopalestina.com)
Bagi Artikel ini :

0 Komentar:

Sampaikan komentar anda

Untuk perbaikan kami... !

 
Supported by : KNRP Kota Bima | Divisi Media dan Humas
Hak Cipta © 2013-2014 KNRP│Kota Bima Online - All Rights Reserved
Web prepared by abujadidbima Published by Divisi Media dan Humas
Proudly developed by abujadidbima