BERITA TERKINI :
Home » » Mayoritas Parlemen Prancis Secara Simbolik Dukung Pengakuan Negara Palestina

Mayoritas Parlemen Prancis Secara Simbolik Dukung Pengakuan Negara Palestina





Paris – Pusat Informasi Palestina: Anggota parlemen Prancis pada hari Selasa (2/12) melakukan pemungutan suara untuk mendukung usulan yang mendorong pemerintah Prancis mengakui Palestina sebagai negara pada batas wilayah Juni tahun 1967, dalam sebuah pemungutan suara simbolik yang tidak diwajibkan.
Dalam sidang hari Selasa (2/12) dihadiri 506 dari total 577 anggota parlemen. Sebanyak 490 anggota ikut memberikan suara dan 16 abstain. Sebanyak 339 mendukung pengakuan Palestina sebagai negara dan 151 anggota menolak.
Sebelum dilakukan pemungutan suara, para anggota Parlemen mendengarkan penjelasan dari anggota parlemen sayap kiri, Francois Lonkel, yang menegaskan bahwa orang-orang Palestina sama seperti orang-orang “Israel”. Mereka memiliki hak untuk menjadi merdeka dan independen. Karena itu kami menyerukan masyarakat internasional untuk bergerak.
Francois menambahkan bahwa usulan ini merupakan dukungan jelas untuk menghidupkan perundingan. Usulan ini juga mendorong orang-orang Palestina dan “Israel” merealisasikan janji sejarah. Dia menegaskan bahwa usulan ini memperhitungkan kepentingan sah “Israel”.
Sebaliknya, wakil dari kelompok kanan parlemen Prancis yang menentang pengakuan negara Palestina, Chistian Jakob, mengkritik kebijakan Presiden Prancis Francois Hollande dan juga mengkritik teks pengakuan Negara Palestina.
Dia mengatakan, “Mereka ingin memaksakan orang Prancis sebuah Negara Palestina dan mereka ingin kita turut andil dalam proses perdamaian. Hollande tersandera oleh mayoritas Parlemen.” Dia menyatakan bahwa kelompok kanan akan menentang pengakuan ini.
Meskipun pemungutan suara ini tidak mengikat, namun ini mengandukung simbol besar setelah parlemen Inggris pada bulan lalu melakukan voting pada memo tidak mengikat, yang meminta pemerintah Inggris agar mengakui Negara Palestina. Begitu juga yang dilakukan oleh parlemen Irlandia dan Spanyol, sebelum pemerintah Swedia mengumumkan pengakuan Negara Palestina.
Langkah Prancis yang dipicu oleh partai sosialis yang berkuasa dan didukung oleh partai-partai kiri dan sebagian orang-orang konservatif, meminta pemerintah mengakui Negara Palestina, dengan tujuan untuk menyelesaikan konflik secara final.
Sebelumnya Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, pekan lalu, mengatakan bahwa pengakuan negara Palestina adalah "benar dan bukan pilih kasih". Di saat yang sama dia mengisyaratkan bahwa hal itu penting demi “Israel".
Sementara itu Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu menyebut pemungutan suara Perancis itu sebagai "kesalahan besar".
Negara-negara Eropa merasa kecewa pada "Israel", yang terus membangun permukiman-permukiman Yahudi di tanah Palestina, yang oleh orang-orang Palestina ingin didirikan negara mereka sejak runtuhnya putaran terakhir perundingan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada bulan April lalu. (asw/infopalesetina.com)
Bagi Artikel ini :

0 Komentar:

Sampaikan komentar anda

Untuk perbaikan kami... !

 
Supported by : KNRP Kota Bima | Divisi Media dan Humas
Hak Cipta © 2013-2014 KNRP│Kota Bima Online - All Rights Reserved
Web prepared by abujadidbima Published by Divisi Media dan Humas
Proudly developed by abujadidbima