BERITA TERKINI :
Home » » Sulitnya Hidup di Gaza, Perempuan pun Harus Berjualan Unggas dan Kelinci

Sulitnya Hidup di Gaza, Perempuan pun Harus Berjualan Unggas dan Kelinci


Khan Yunis – Pusat Informasi Palestina: Usia tua tak menghalangi Hajjah Ummu Khalid keluar rumah pagi-pagi untuk mencari nafakah dengan berjualan telur dan kelinci di Pasar Rabu di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan.
Hajjah Ummu Khalid (70 tahun) ini menegaskan kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, ini untuk mencari sesuap roti. “Kalau tidak mencari rizki kita tak akan bisa hidup” tegasnya sambil berjualan setiap Rabu di Khan Yunis.
Perempuan ini menunjuk sejumlah telur dalam ember di depannya dan beberapa pasang kelinci. Ia juga mengaku menjual unggas, kelinci dan telur sejak 30 tahun lalu. Ia merawat di pekarangan rumahnya yang kecil di daerah Abasan Besar, di timur Khan Yunis beberapa ekor unggas, kelinci kemudian dijualnya di pasar.
Stand unggas di pasar Rabu Khan Yunis menjadi ciri khas pasar ini yang diburu oleh para pedagang dan pembeli dari seluruh. Selain aneka ragamnya, harganya terjangkau oleh sebagian besar warga.
Tak Masalah Demi Harga Diri
Berjualan telur dan unggas bukanlah hal memalukan bagi Hajjah Ummu Khalid. “Sepotong roti demi harga diri lebih baik daripada meminta-minta. Alhamdulillah setiap saat. Kami rela dan ridla dengan yang sedikit dan kami meminta kepada Allah agar diberikan rizki dan husnul khatimah.”
Berdasarkan data dari Pusat Statistik Palestina, jumlah pekerja perempuan di pasar Palestina mencapai 265 ribu wanita dan jumlah pengangguran perempuan selama 2014 mencapai sekitar 97,4 ribu pengangguran dan tingkat rata-rata pengangguran perempuan di Tepi Barat dan Jalur Gaza mencapai 38,4 persen.
Kerugian Perang dan Bangkit Kembali
Ummu Khalid ibu 10 anak, hidup di satu rumah bersama salah satu menantunya. Anak-anaknya banyak yang menderita penyakit. Keluarga ini menjadi korban dan merasakan kerugian akibat agresi terakhir Israel ke Jalur Gaza. Meski mereka selamat dari senjata mematikan Israel, sebagian besar unggas piaraan mereka mati.
“Saya tinggalkan rumah menuju pusat penampungan dan perlindungan. Selesai perang dan pulang, saya temukan unggas dan kelinci saya mati kelaparan dan kehausan disamping karena tersedak gas.”
Bukan saja Ummu Khalid, nenek-nenek yang berjualan burung. Masih banyak yang senasib dengannya. Seperti Ummu Muhammad (58) yang menunggu beberapa burungnya laku di pasar rakyat di Khan Yunis. Ia berjualan burung sejak 7 tahun namun dia hanya membeli (kulakan) dan menjual kembali dengan keuntungan yang sedikit.
Pusat data statistik Palestina menyebutkan, sektor jasa dan pertanian adalah paling menyerang tenaga perempuan di pasar lokal, 57 persen di sektor jasa dan 20 persen di sektor pertanian (termasuk peternakan) dari total tenaga kerja.
Blokade dan perang selama delapan tahun di Jalur Gaza berimbas negatif kepada realitas ekonomi dan meningkatkan tingkat kemiskinan yang mencapai 60 persen.
Suami Ummu Muhammad bekerja sebagai penarik kereta keledai atau kuda yang hanya mendapatkan 30 Shekel dalam sehari. Selain karena faktor kehadiran bajaj sebagai sarana angkutan barang. (at/infopalestina.com)
Bagi Artikel ini :

0 Komentar:

Sampaikan komentar anda

Untuk perbaikan kami... !

 
Supported by : KNRP Kota Bima | Divisi Media dan Humas
Hak Cipta © 2013-2014 KNRP│Kota Bima Online - All Rights Reserved
Web prepared by abujadidbima Published by Divisi Media dan Humas
Proudly developed by abujadidbima