BERITA TERKINI :
Home » » Luthfi: Tiga Bahaya Ancam Al-Aqsha (Wawancara)

Luthfi: Tiga Bahaya Ancam Al-Aqsha (Wawancara)





Ummu Fahm – Pusat Informasi Palestina: Pusat Studi Modern di kota Ummu Fahm (wilayah Palestina jajahan 1948), Shalih Luthfi menilai, penggerebekan berkelanjutan belakangan ini ke masjid Al-Aqsha yang dilakukan pemukim Yahudi ekstrim disertai pelanggaran terhadap tempat suci dilakukan sebagai terapan atas gagasan pemikiran keagamaan di kalangan warga yahudi dari penganut Rabi Kook.
Dalam wawancaranya dengan Pusat Informasi Palestina, Luthfi menegaskan, Rabi Kook mengkombinasikan agama dan politik, menjalankan agama untuk kepentingan politik, dan menjalankan politik untuk kepentingan agama. Teori pemikiran dari paham aliran sekolah Rabi Kook membolehkan serangan ke Al-Aqsha dan seluruh sisinya kecuali Kubah Shakrah dan sekitarnya karena dianggap batu paling suci.
Berikut petikan lengkap wawacaranya:
-          Apa indicator-indikator cara penggerebekan baru yang digunakan Israel dan warganya dalam menggunakan kekuatan ke Al-Aqsha?
-          Latar belakang ideology pemikiran Yahudi dalam beberapa tahun belakangan ini semakin kuat menuntut pembagian masjid Al-Aqsha setelah masjid Ibrahimi di Hebron sudah dibagi. Jika ditelusuri sejarahnya, aksi penggerebakan ini terkait dengan tiga factor internal yahudi zionis:
1.       Merasuknya pemikiran – gagasan penggerebekan dan penyerangan Al-Aqsha – ke dalam ranah politik Israel. Lihat penggerebekan Sharon ke Al-Aqsha tahun 2000 menjadi penanda sejarah hubungan antra lembaga negara Israel dan masjid Al-Aqsha.
2.       Merasuknya pemikiran tersebut di antara pemuda Yahudi di sisi dan kelompok agamis yahudi secara umum di public Israel.
3.       Penjagaan dan perlindungan Israel terhadap warga yahudi yang menggerebek ke Al-Aqsha.
Yang baru dalam aksi penggerebekan ini ada lima hal:
1.       Makin besarnya peran politik resmi Israel untuk menyerang masjid Al-Aqsha dan ikut serta di dalamnya.
2.       Aksi penyergapan dan penyerangan diundang-undangkan dilegalkan, yang menggerebek dilindungi undang-undang.
3.       Menggunakan pasukan khususu dan sniper dalam menggerebek Al-Aqsha.
4.       Membidik perempuan dan anak-anak, memukul tangan mereka dengan besi dan sengaja menghina mereka.
5.       Aksi gelombang penggerebekan dan penangkapan jamaah shalat dan melarang pemuda dan wanita masuk masjid.
6.       Menciptakan rasa takut di kalangan warga Palestina yang shalat.
         Apakah kita saat ini melewati fase sebelum langkah-langkah Yahudi yang lebih sensitive terkait masa depan Al-Aqsha?
-          Kita saat ini pada fase eskalasi akumulasi yang sudah dibangun Israel sejak tahun 2000. Ada tiga catatan mesti diperhatikan;
1.       Kesiapan warga pemukim yahudi dalam bentrokan dengan jamaah shalat dengan penjagaan polisi Israel, cercaan dan penghinaan kepada jamaah shalat dan Nabi Muhammad saw. dan agama Islam. Sementara jamaah shalat dan murabith Al-Aqsha juga sangat berani menantang serbuan Yahudi.
2.       Makin kuatnya peran media Israel sekuler dalam hal tuntutan bolehnya ritual Yahudi di halaman Al-Aqsha dan membagi al-Aqsha.
3.       Tuntutan resmi dari politisi dan pemerintah Israel untuk membagi masjid Al-Aqsha menjadi dua secara resmi, memisahkan dengan umat Islam dan membangun kuil Solomon sebagai mitos mereka.
Langkah eskalasi akan semakin kuat di tengah usaha kuat Israel menguasai masjid Al-Aqsha dan kondisi chaos bangsa Arab dan lemahhnya rezim-rezim mereka.
-          Bagaimana ribath di Masjid Al-Aqsha bisa menghadapi ancaman Israel?
-          Saya yakin ribath bisa menjaga Al-Aqsha berdasarkan basis jumlah terbanyak warga di Al-Aqsha. Kemudian mendorong warga Palestina di Al-Quds dan sekitarnya untuk selalu berjamaah dan menjaga Al-Aqsha, menghidup seluruh kegiatan keagamaan, pengajian, memperbanyak kegiatan pendidikan Islam, menghasung warga belajar di sana serta mendorong ada dukungan dari dunia Arab dan Islam.
Ulama dan dai harus berpean dalam membuat proyek dan program dakwah dan pendidikan untuk menjaga Al-Aqsha dari khutbah jumat, kunjungan ke warga door to door, seruan rihlah ke Al-Aqsha.
Untuk menghadapi politik deportasi yang dilakukan Israel dengan mengusir pimpinan dana aktivis pembela Al-Aqsha, tidak ada jalan lain harus menolak dan menghadang politik ini, meski sarana sangat minim.
Saya yakin Israel tidak akan mampu budaya bangsa Palestina dan Arab dalam membela Al-Aqsha. Sebaliknya, semakin brutal serangan Israel ke Al-Aqsha, maka aksi pembelaan akan semakin kuat.
Sementara warga Arab dan dunia Islam harus memberikan dukungan moral, spiritual, dan politik terhadap warga Palestina di Al-Aqsha. Juga dukungan media massa dan opini dengan membongkar kedok kebohongan Israel. Dukungan kepada warga Al-Quds dari sisi materi dan dana juga sangat penting agar mereka tetap bisa bertahan membela Al-Aqsha. (at/infopalestina.com)
Bagi Artikel ini :

0 Komentar:

Sampaikan komentar anda

Untuk perbaikan kami... !

 
Supported by : KNRP Kota Bima | Divisi Media dan Humas
Hak Cipta © 2013-2014 KNRP│Kota Bima Online - All Rights Reserved
Web prepared by abujadidbima Published by Divisi Media dan Humas
Proudly developed by abujadidbima